PROFIL PROGRAM

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kawasan Timur Indonesia memiliki banyak potensi sumber daya pesisir dan laut. Masyarakat di Provinsi NTT juga memiliki berbagai keunikan budaya dan tradisi lokal. Provinsi kepulauan NTT yang terdiri lebih dari 1.190 pulau kecil dengan garis pantai sekitar 5.700 Km dan luas laut 15.141.733 Ha sangat rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan suhu di wilayah tersebut telah meningkatkan frekuensi bahaya iklim seperti kekeringan, perubahan pola curah hujan dan badai tropis. Di NTT, musim kemarau lebih panjang dibandingkan daerah lain, yaitu selama tujuh bulan (Mei-November). Secara keseluruhan, empat kabupaten/kota yang diusulkan menjadi lokasi intervensi program termasuk wilayah yang paling sering mengalami kekeringan akibat musim panas yang berkepanjangan.

Ketahanan pesisir dan pulau-pulau kecil terhadap perubahan iklim sering dibahas dalam berbagai forum oleh para ilmuwan dan pejabat pemerintah. Faktor-faktor yang menentukan kapasitas adaptif yang membangun ketahanan pesisir meliputi faktor sosial/manusia, keuangan dan fisik. Namun, faktor-faktor tersebut belum sepenuhnya dipertimbangkan dalam tindakan untuk memperkuat ketahanan pesisir dan pulau-pulau kecil. OMS dan masyarakat sering kali tidak sadar atau terinformasi dengan baik tentang bahaya iklim di wilayah mereka dan bagaimana meningkatkan kapasitas mereka untuk adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Perempuan dan kelompok terpinggirkan seperti nelayan skala kecil seringkali memiliki kesempatan yang terbatas untuk mengambil bagian dan diakui dalam menangani isu-isu iklim, padahal merekalah yang paling terkena dampak perubahan iklim. Perempuan di masyarakat pesisir di provinsi NTT memainkan peran penting dalam pemanfaatan sumber daya pesisir dan ekonomi seperti dalam budidaya rumput laut dan ‘makan meting’ tradisional (memungut dan mengumpulkan moluska kecil di dataran terumbu dan padang lamun saat air surut). Selain itu, di Provinsi NTT, sejumlah kearifan tradisional dan kearifan lokal dipraktikkan, seperti ‘lilifuk’ di Kupang, ‘hoholok/papadak’ di Rote Ndao, ‘muro’ di Lembata. Meskipun pengetahuan tradisional dan kearifan lokal tersebut penting untuk diperhitungkan dalam ilmu iklim, pengakuan terhadap praktik tradisional tersebut masih terbatas.

Amplifying Voices for Just Climate Actions (AVJCA) merupakan program yang didukung oleh Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Hivos-Indonesia) untuk menyuarakan keadilan iklim di Indonesia khususnya suara-suara komunitas dari Nusa Tenggara Timur. Koalisi Adaptasi yang terdiri dari Yayasan Penabulu sebagai lead koalisi dengan anggota Perkumpulan Yapeka,Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan & Demokrasi (KPI), Pusat Kajian Sains Keberlanjutan & Transdisiplin IPB (CTSS IPB), Perkumpulan Konsil LSM Indonesia (Konsil LSM), Perkumpulan Desa Lestari, Perkumpulan Sinergantara, Yayasan Koordinasi Pengkajian & Pengelolaan Sumber Daya (Koppesda), Yayasan Lembaga Pengembangan Masyarakat Lembata (Barakat) bertujuan untuk memperkuat suara-suara untuk aksi iklim yang adil dengan cara melakukan meningkatkan kapasitas kelompok/organisasi masyarakat sipil lokal dan kelompok marjinal di wilayah sasaran program, Akuisisi narasi media lokal dan pengembangan hubungan dengan media nasional dan jaringan advokasi OMS, Pengelolaan, penciptaan, pertukaran pengetahuan dan kearifan lokal dalam skala nasional.

Strategi utama atau pendekatan utama program akan dilakukan dengan pendekatan manajemen adaptif. Manajemen Adaptif akan memungkinkan program untuk melibatkan proses pembelajaran secara berkala dengan mempertimbangkan umpan balik dari proses pemantauan dan evaluasi program sebagai dasar untuk perencanaan lebih lanjut, dan kemungkinan penyesuaian atau modifikasi ToC dan rencana pelaksanaan program. Proses pemantauan dan evaluasi akan dilakukan untuk memastikan keterlibatan maksimal dari penerima manfaat dan pemangku kepentingan utama. Sedangkan proses perencanaan akan dilakukan secara bottom-up dengan memberikan wadah seluas-luasnya bagi ide dan pemikiran dari unit pengelola program di level paling bawah.

Pendukung Program

Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, berdasarkan dokumen 1.1.2/2021/YHIS/365/TP/tl (amendment 2.3.4/2022/YHIS/348/P/CJ/AVFCJA/TP/tl), periode 1 Agustus 2021- 31 Oktober 2024 dengan totalangaran EUR 455,895.39, lokasi kerja NTT.